Tools yang Selalu Ada di Laptop Saya sebagai Developer

Setup laptop developer yang rapi dan produktif

Ada beda antara tools yang terlihat keren di artikel orang dan tools yang benar-benar kamu pakai setiap hari. Artikel ini soal yang kedua.

Saya sudah coba banyak hal — dari setup yang ultra-minimalist sampai yang tool-heavy. Yang tersisa sekarang adalah set yang sudah ter-distilasi: kalau tidak dipakai minimal 3 kali seminggu, tidak ada di laptop saya.

Ini bukan endorsement berbayar. Ini catatan jujur dari apa yang benar-benar berguna.

Terminal & Shell

Warp (atau Ghostty untuk yang suka minimalist)

Terminal adalah rumah. Investasi di terminal yang baik langsung terasa di produktivitas sehari-hari.

Warp adalah terminal yang re-imagined dari nol: input seperti text editor, bisa edit command sebelum run, ada command palette, dan yang paling berguna — AI assistance built-in. Ketik / dan describe apa yang mau kamu lakukan, Warp generate command-nya.

Buat yang lebih suka sesuatu yang ringan dan cepat tanpa fitur AI: Ghostty (dari creator 1Password) adalah terminal yang sangat fast dan zero-bloat.

Zsh + Oh My Zsh + Powerlevel10k

Shell default macOS sudah Zsh, tapi dengan Oh My Zsh dan Powerlevel10k (tema), pengalaman di terminal jadi jauh lebih menyenangkan:

  • Git status langsung di prompt
  • Auto-suggestions dari history
  • Syntax highlighting
  • Shortcut navigasi directory yang lebih baik

Plugin yang wajib: git, zsh-autosuggestions, zsh-syntax-highlighting, z (jump ke directory yang sering dipakai).

Code Editor

VS Code (dengan config yang dipikirkan)

Saya pernah coba Neovim, saya coba Zed, saya coba JetBrains. Kembali ke VS Code — bukan karena terbaik di semua hal, tapi karena ekosistem extension-nya tidak tertandingi dan muscle memory sudah terlalu dalam.

Extension yang tidak bisa hilang:

  • GitHub Copilot — code completion berbasis AI. Kalau belum pakai, coba dulu minimal sebulan sebelum judge.
  • GitLens — visualisasi git history yang powerful, bisa lihat siapa yang menulis baris tertentu kapan.
  • Error Lens — tampilkan error/warning langsung di baris kode, tidak perlu hover.
  • Prettier + ESLint — auto-format dan linting. Setup sekali, tidak perlu pikir lagi soal formatting.
  • Thunder Client — REST client built-in VS Code, alternatif Postman yang ringan.
  • Docker — manage container langsung dari sidebar VS Code.

Satu tips yang mengubah produktivitas: pelajari keyboard shortcuts VS Code dengan serius. Cmd+P untuk navigate file, Cmd+Shift+P untuk command palette, Ctrl+ untuk toggle terminal. Investasi beberapa jam belajar shortcut menghemat berjam-jam setiap minggu.

Version Control

Git + Lazygit

Git sudah obvious — tapi saya tambahkan Lazygit sebagai TUI (terminal UI) untuk Git yang mengubah cara saya berinteraksi dengan version control.

Dengan Lazygit, kamu bisa:

  • Stage file atau bahkan hunk tertentu secara visual
  • Navigate commit history
  • Resolve conflict dengan interface yang jelas
  • Stash dan manage branches

Semua tanpa harus ingat command Git yang kompleks. Di terminal: ketik lg, langsung masuk ke interface visual.

GitHub CLI

gh pr create --title "..." --body "..."

gh pr review 123 --approve

gh issue list

GitHub CLI (gh) memungkinkan kamu lakukan hampir semua hal GitHub dari terminal — tanpa buka browser. Untuk workflow yang heavy dengan Pull Request dan Issue, ini menghemat banyak konteks switching.

Database

TablePlus

Database client yang paling clean yang pernah saya pakai. Support PostgreSQL, MySQL, SQLite, MongoDB, Redis — semua dalam satu app dengan UI yang konsisten dan cepat.

Query editor yang proper, visualisasi data yang baik, dan bisa manage multiple connection dengan mudah. Ada free tier yang sudah cukup untuk kebanyakan kebutuhan.

DBeaver (free alternative)

Kalau mau gratis dan support lebih banyak database (termasuk yang lebih obscure), DBeaver adalah alternatif solid meski UI-nya tidak seelegan TablePlus.

API Development & Testing

Hoppscotch (browser-based) atau Bruno (local-first)

Postman sudah terlalu gemuk. Alternatif yang saya suka:

Hoppscotch — open source, bisa run di browser, ringan, sudah ada collaboration features. Kalau mau self-host, bisa.

Bruno — local-first, collection tersimpan sebagai file di filesystem (bisa di-git!), open source, tidak butuh account. Ini yang paling saya suka sekarang karena collection bisa di-commit bareng kodenya.

Container & Virtualization

Docker Desktop + Orbstack

Docker Desktop sudah cukup untuk kebutuhan dasar, tapi kalau kamu di Mac dan kerja heavy dengan Docker, Orbstack adalah alternatif yang jauh lebih ringan dan cepat — startup container hampir instant, konsumsi RAM lebih rendah.

Productivity & Workflow

Raycast

Raycast adalah replacement untuk macOS Spotlight yang jauh lebih powerful. Yang membuat saya tidak bisa lepas:

  • Window management tanpa install app tambahan (bisa split, maximize, pindah monitor)
  • Clipboard history — Cmd+Shift+V untuk lihat 100 clipboard terakhir
  • Extensions untuk GitHub, Notion, Jira, Linear — search issue/PR langsung dari Raycast
  • Snippets — type shortcut, expand jadi teks panjang (email template, code snippet)
  • Script Commands — run bash/Python script langsung dari Raycast

Obsidian

Note-taking yang local-first, file berbasis Markdown, dan ekosistem plugin yang kuat. Saya pakai ini untuk:

  • Daily notes dan standup journaling
  • Architecture decisions dan research notes
  • Knowledge base project-project yang sedang dijalani

Data tersimpan lokal sebagai file Markdown — bisa di-sync via iCloud, Google Drive, atau bahkan git. Tidak bergantung pada satu vendor.

CleanMyMac X atau Disk Diag

Developer adalah salah satu user yang paling cepat menghabiskan storage — cache npm, Docker images, simulator files, build artifacts. Tool maintenance storage yang dijalankan sekali sebulan menghemat dari drama “disk full di saat yang tidak tepat.”

Monitoring & Debugging

Charles Proxy atau Proxyman

Kalau perlu inspect HTTP traffic dari aplikasi (termasuk mobile app), HTTP proxy seperti Proxyman (lebih modern, UI lebih bagus) atau Charles Proxy adalah tool yang tidak ternilai untuk debugging.

Bisa intercept, modify, dan replay request — sangat berguna untuk debug API behavior yang aneh.

Stats (atau iStat Menus)

Menu bar yang tampilkan CPU, RAM, network, disk usage secara real-time. Berguna untuk tahu kalau ada process yang makan resource berlebihan atau koneksi yang berjalan saat tidak seharusnya.

Terminal Utilities yang Wajib Ada

# Navigasi dan pencarian

brew install fzf # fuzzy finder — Ctrl+R untuk search history

brew install ripgrep # rg: grep yang jauh lebih cepat

brew install fd # find yang lebih modern dan user-friendly

brew install bat # cat dengan syntax highlighting

brew install eza # ls yang modern dengan icons dan tree view

Process management

brew install htop # top yang lebih readable

brew install procs # ps yang lebih modern

Network

brew install httpie # HTTP client yang user-friendly

brew install wget curl # download classics

Honorable Mentions

  • Figma — karena sering harus inspect desain atau membuat wireframe cepat
  • Notion — untuk project management tim dan documentation
  • Slack — obvious, tapi diatur dengan notifikasi ketat supaya tidak jadi sumber distraksi
  • 1Password — password manager. Tidak ada alasan untuk tidak pakai password manager di 2026.

Penutup: Setup yang Baik itu Personal

Daftar di atas adalah milik saya — mungkin tidak semua cocok untuk kamu. Yang paling penting adalah: ambil waktu untuk mengoptimasi setup kamu. Investasi beberapa jam setiap beberapa bulan untuk evaluate dan improve workflow memberikan return yang jauh lebih besar dari rata-rata feature yang kamu build.


Mau ngobrol soal setup dev environment, atau butuh rekomendasi tools untuk stack tertentu? Hubungi mafadev — kita share pengalaman.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *