Side project itu sering lahir dari dua kondisi: semangat yang tinggi dan waktu yang terbatas. Kamu tidak mau habiskan 3 jam hanya untuk setup database sebelum bisa mulai menulis satu baris kode bisnis.
Tapi keputusan database ini penting — salah pilih di awal bisa membuat kamu bayar lebih dari yang perlu, atau stuck ketika project tumbuh.
Di artikel ini kita bedah tiga pilihan yang paling populer di 2026 untuk side project: Supabase, PlanetScale, dan Turso. Tidak ada yang paling baik secara absolut — tapi ada yang paling cocok untuk konteks kamu.
Supabase: Backend as a Service yang Lengkap
Apa itu Supabase?
Supabase adalah open-source alternative dari Firebase, dengan PostgreSQL sebagai database utama. Yang membuatnya beda: kamu tidak hanya dapat database, tapi juga:
- Auth — authentication sudah built-in dengan berbagai provider
- Storage — file storage untuk image, video, dokumen
- Edge Functions — serverless functions (berbasis Deno)
- Realtime — WebSocket connection untuk live updates
- Row Level Security (RLS) — fine-grained access control langsung di database
Kenapa Supabase Bagus untuk Side Project?
Developer experience yang luar biasa. Dashboard Supabase sangat polished — kamu bisa manage database, lihat logs, test API, sampai membuat auth flow semua dari satu tempat. Waktu setup dari nol sampai bisa query database: di bawah 10 menit.
Auto-generated API. Supabase otomatis generate REST API dan GraphQL API dari schema database kamu. Artinya frontend bisa langsung query database tanpa kamu perlu menulis backend endpoints.
Free tier yang cukup generous:
- 2 project aktif
- 500MB database storage
- 1GB file storage
- 50.000 monthly active users untuk auth
Kekurangan Supabase
- Vendor lock-in — walaupun open source, kalau kamu pakai semua fitur Supabase (Auth, Storage, Realtime), pindah platform jadi susah
- PostgreSQL dengan batasan — beberapa fitur PostgreSQL advanced tidak tersedia di free tier
- Free project di-pause — project yang tidak aktif selama 1 minggu akan di-pause, kamu perlu restore manual
- Harga tier berbayar — $25/bulan terasa mahal untuk side project yang masih kecil
Kapan Pilih Supabase?
- Kamu butuh auth, storage, dan database dalam satu package
- Project kamu adalah web app dengan banyak user-facing features
- Kamu mau move fast tanpa setup backend sendiri
- PostgreSQL adalah pilihan database kamu
PlanetScale: MySQL yang Scalable dan Developer-Friendly
Apa itu PlanetScale?
PlanetScale adalah database-as-a-service berbasis MySQL (menggunakan Vitess, database yang dipakai YouTube). Fokus utamanya: MySQL yang bisa scale horizontal tanpa kamu pusing, dengan workflow yang Git-like untuk schema changes.
Fitur Unggulan
Database Branching. Ini fitur killer PlanetScale. Kamu bisa buat “branch” dari database — seperti Git branch — untuk develop dan test schema changes sebelum deploy ke production. Tidak ada lagi drama migration yang membuat production down.
Non-blocking schema changes. Seharusnya semua database bisa ini, tapi kenyataannya tidak. PlanetScale mengizinkan kamu alter table di production tanpa lock, tanpa downtime.
Built-in insights. Query analytics yang bagus untuk track slow queries.
Kekurangan PlanetScale
- Tidak support foreign key constraints — ini kontroversial. PlanetScale merekomendasikan handle referential integrity di application layer. Ini membuat sebagian developer tidak nyaman.
- MySQL, bukan PostgreSQL — kalau kamu team PostgreSQL, ini mungkin dealbreaker
- Free tier hilang — PlanetScale pernah punya free tier yang sangat generous, tapi sudah dihapus. Sekarang mulai dari $39/bulan untuk Scaler plan, atau $29/bulan Hobby (untuk satu database kecil)
- Lebih mahal — untuk side project dengan budget terbatas, ini significant
Kapan Pilih PlanetScale?
- Kamu butuh MySQL dan perlu schema branching untuk development workflow yang aman
- Project kamu mungkin akan scale besar dan kamu mau infrastructure yang proven (Vitess dipakai di skala massive)
- Kamu atau tim sudah familiar dengan MySQL ecosystem
- Budget tidak jadi masalah utama
Turso: SQLite untuk Edge Computing
Apa itu Turso?
Turso adalah database service berbasis libSQL (fork SQLite) yang didesain untuk edge computing. Konsep utamanya: database yang berjalan close to your users, bukan di satu data center terpusat.
Kamu bisa punya ratusan database instance yang tersebar di seluruh dunia, dan request dirouting ke instance terdekat dengan user.
Kenapa Turso Menarik?
Latency yang sangat rendah. Karena database di-replicate ke banyak edge location, read latency bisa di bawah 10ms untuk sebagian besar user di seluruh dunia.
SQLite compatibility. SQLite adalah database yang paling banyak diinstall di dunia, tapi tidak designed untuk server. Turso solve ini — kamu dapat ekosistem SQLite yang familiar tapi dengan reliability dan distribusi cloud.
Harga yang sangat terjangkau:
- Free tier: 500 database, 9GB total storage, 1 milyar row reads
- Starter: $29/bulan untuk lebih banyak resource
Embedded replicas. Kamu bisa sync database Turso ke local SQLite file di server kamu, artinya read bisa dilayani locally tanpa network call sama sekali.
Kekurangan Turso
- Masih relatif baru — ekosistem dan tooling belum se-mature PostgreSQL atau MySQL
- SQLite limitations — walaupun libSQL menambahkan beberapa fitur, SQLite masih punya beberapa keterbatasan (misalnya: ALTER TABLE yang terbatas)
- Cocok untuk read-heavy workload — write scaling masih lebih terbatas dibanding PlanetScale
- Kurva belajar — konsep multi-database dan embedded replicas butuh waktu untuk dipahami
Kapan Pilih Turso?
- Kamu build aplikasi yang butuh latency sangat rendah (real-time features, global user base)
- Project kamu lebih read-heavy daripada write-heavy
- Kamu mau eksperimen dengan edge computing dan modern stack
- Budget sangat terbatas (free tier Turso sangat generous)
Perbandingan Head-to-Head
| Kriteria | Supabase | PlanetScale | Turso |
|———|———-|————-|——-|
| Database | PostgreSQL | MySQL (Vitess) | SQLite (libSQL) |
| Free tier | Ya (terbatas) | Tidak | Ya (sangat generous) |
| Harga mulai | $25/bln | $29/bln | Gratis / $29/bln |
| Auth built-in | Ya | Tidak | Tidak |
| Storage built-in | Ya | Tidak | Tidak |
| Realtime | Ya | Tidak | Terbatas |
| Schema branching | Tidak | Ya | Tidak |
| Edge distribution | Tidak | Tidak | Ya |
| Cocok untuk | Full-stack app | Large-scale app | Edge / global app |
Satu Alternatif Lagi: Neon
Kalau kamu cinta PostgreSQL tapi mau harga yang lebih terjangkau dari Supabase dengan fitur yang lebih focused, Neon layak dipertimbangkan.
Neon adalah serverless PostgreSQL dengan fitur branching seperti PlanetScale tapi untuk PostgreSQL. Free tier yang cukup baik dan harga yang kompetitif. Tidak punya auth atau storage built-in, tapi kalau kamu hanya butuh database PostgreSQL yang bagus, Neon adalah pesaing kuat.
Rekomendasi Akhir
Untuk side project yang butuh everything dalam satu package: Supabase. Kamu bisa launch lebih cepat, tidak perlu setup auth dan storage sendiri.
Untuk project yang mungkin akan scale besar dan butuh MySQL: PlanetScale. Tapi siapkan budget.
Untuk side project dengan budget minimal tapi butuh performa global: Turso. Free tier-nya sangat generous dan teknologinya menarik.
Untuk yang butuh PostgreSQL murni dengan harga terjangkau: Neon.
Kalau kamu masih bingung, mulai dengan Supabase. Bisa pivot nanti, tapi untuk validasi awal, kecepatan setup Supabase sulit ditandingi.
Mau bantuan memilih stack yang tepat untuk side project atau product kamu? Atau butuh konsultasi arsitektur database sebelum mulai build? Yuk ngobrol — hubungi mafadev dan kita diskusi bareng.

Leave a Reply